Thursday, May 14, 2015

Cerita Cinta Sebening Embun

Sebening Embun

Embun. Aku memanggilnya embun. Titik – titik air yg jatuh dari langit di malam hari dan berada di atas dedaunan hijau yang membuatku damai berada di taman ini, seperti damai nya hatiku saat berada disamping wanita yang sangat aku kagumi, embun.


“ngapain diam di situ, ayo sini rei…” teriakan embun yang memecahkan lamunanku. Aku lalu menghampirinya, dan tersenyum manis dihadapan nya.


“gimana kabarmu embun?”


“seperti yang kamu lihat, tak ada kemajuan. Obat hanyalah media yang bertujuan memperparah keadaanku. Dan lihat saja saat ini, aku masih terbaring lemah dirumah sakit kan?”, Keluhnya.


“obat bukan memperparah keadaanmu, tapi mencegah rasa sakitnya. Embun,, kamu harus optimis ya”.


“hei rei, aku selalu optimis. Kamu nya aja yang cengeng. Kalo jenguk aku pasti kamu mau nangis,, iya kan? Udahlah rei,,, aku udah terima semua yang di takdirkan Tuhan,, dan saatnya aku untuk menjalaninya, kamu jgn khawatir, aku baik-baik aja kok”. Benar kata embun, aku selalu ingin menangis ketika melihat keadaannya. Lelaki setegar apapun, pasti akan sedih melihat keadaannya, termasuk aku.

***


Sudah 2 minggu tak kutemui senyum embun di sekolah. Sangat sepi yang aku rasakan. Orang yang aku cintai sedang bertaruh nyawa melawan kanker otak yang telah merusak sebagian hidupnya. Apa? Cinta? Apakah benar aku mencintainya??? Entahlah,, aku hanya merasakan sakit di saat melihat dia seperti ini. ya Tuhan, izinkan aku menggantikan posisinya. Aku tak ingin melihat wanita yang aku sayangi terbaring lemah di sana. Tolong izinkan aku.


Seperti biasa, aku menyempatkan diri setelah pulang sekolah untuk pergi menjenguk embun di rumah sakit.


“hai embun,, bagaimana kabarmu?”


“sudah merasa lebih baik di bandingkan hari kemarin. Gimana keadaan sekolah kita?”


“baik juga. Cuma… ada sedikit keganjalan.”


“keganjalan apa rei?”


“karena di sana tak kutemukan senyummu embun….”


“ada ada aja kamu rei,,, hahaha. O iya, kata dokter, besok aku udah di izinin pulang lho. Aku senang banget. Kamu bisa kan jemput aku di sini”.


“apa? Serius?” tanyaku kaget dan senang juga.


“sejak kapan aku bisa bohong sama kamu. Aku serius reivan algibran. Hehehhe”.


“gak perlu sebut nama lengkapku embun azzula,, aku percaya kok”. Senang sekali bisa melihat senyum dan tawamu embun,,, bathinku.


***

Waktu terasa cepat berlalu, karena sekarang aku sudah berada tepat di depan pintu kamar embun. Aku mengetuknya dan…” pagi embun,,”


“pagi juga reivan,, gimana, kamu dah siapkan antar aku kemanapun aku mau…?”


“siap tuan putri,, aku selalu siap mengantarmu kemanapun engkau mau. Heheheh”


“ok,, sekarang aku pengen ke taman. Tempat kita pertama kali bertemu rei,, kamu bisa antar aku ke sana kan?”.


“siip, berangkat”.


Taman ini menjadi tempat favorit kami. Sedih, suka, marah akan kami lontarkan di tempat ini. Tempat yang penuh dengan bunga-bunga yang kami tanam dari nol. Ya, taman ini karya kami. Taman yg terletak tepat di belakang gedung sekolah. 1 petak tanah yg tak pernah tersentuh oleh tangan manusia, ntah apa alasan mereka. Tanah yg tandus, bunga yg layu telah kami sulap menjadi taman cinta yang begitu indah, yang di tumbuhi bunga2 kesukaan kami. Sejak embun di rawat di rumah sakit, aku tak pernah mengunjungi taman ini, walaupun dekat dengan sekolahku.


“rei, kenapa semua bunga di sini layu,, apakah tak pernah kamu rawat?”. Tanyanya. Apa yang harus aku jawab,, aku tau, dia pasti marah.


“mereka layu karena tak ada embun di sini”. jawabku seadanya.


“embun? Bukannya tiap pagi selalu ada embun yg membasahinya?”


“tak ada yg lebih berarti selain embun azzula bagi tanaman ini, termasuk aku”. Jelasku yg membuat dia terdiam sesaat.


“maksud kamu?”, dia menatapku dalam.


“tak ada,, mereka cuma butuh embun azzula yg merawatnya, bukan embun biasa dan aku. Mereka kesepian, karena sudah 2 minggu tak melihat senyum dan tawamu embun”.


“ya, aku menyadarinya itu. Sahabat,,, maafin embun ya,,, maaf selama ini embun gak bisa merawat sahabat serutin kemarin. Itu karena kesehatan embun yg semakin berkurang. Dulu embun bisa berdiri sendiri, sekarang embun harus menggunakan tongkat, kursi roda dan bahkan teman. Teman seperti rei, yg bisa memapah embun. Thanks y rei..”


“eh,, ii iya, iya embun, sama sama.”


Sudah seharian kami di sini,, tanpa di sadari embun terlelap di pangkuanku. Menetes airmataku ketika melihat semua perubahan fisik yg terjadi padanya. Wajahnya yg pucat, tubuhnya yg semakin kurus, dan rambutnya yg semakin menipis, membuat aku kasihan. Kenapa harus embun yg mengalaminya? Tapi aku juga salut, tak pernah ada airmata di wajahnya. Dia sangat menghargai cobaan yg diberikan Tuhan kepadanya, dia selalu tersenyum, walaupun sebenarnya aku tau, ada kesedihan dibalik senyum itu.


“rei…” desahnya


“ia embun. Kamu dah bangun ya? Kita pulang sekarang yuk,,, “ ajakku ketika dia sadar dari mimpinya.


“aku mau di sini terus rei,, kamu mau kan nemenin aku. Aku mau menunggu embun datang membasahi tubuhku. Sudah lama sekali aku tak merasakannya”.


“tapi angin malam gak baik buat kesehatan kamu”.


“aku tau, tapi untuk terakhir kali nya rei,,, pliss…”.


“maksud kamu apa? Aku gak mau dengar kalimat itu lagi”.


“gak ada maksud apa-apa,,, kita gak tau takdir kan. Dah ah,, kalo kamu gak mau nemenin aku, gak apa-apa. Aku bisa sendiri”.


“gak mungkin aku gak nemenin kamu embun,, percayalah… aku akan selalu ada untukmu”.


“ gitu dong,, itu baru sahabat aku.” Ucapnya sambil melihat bunga-bunga di sekelilingnya.


“embun…”


“ya,,,”


“kamu suka dengan embun?”


“sangat. Aku sangat menyukainya. Embun itu bening, sangat bening. Dan bening itu menyimpan sejuta kesucian. Aku ingin seperti embun, bening dan suci. Menurutmu bagaimana?”


“aku juga mencintai embun. Mencintai embun sejak mengenal embun”.


“rei, kamu tau… aku ingin seperti embun. Embun yang bisa hadir dan memberi suasana beda di pagi hari. Embun yg selalu di sambut kedatangannya oleh tumbuhan”.


“kamu sudah menjadi embun yg kamu inginkan.”


“maksudmu?”


“tak ada”.


Aku sengaja merahasiakan perasaanku terhadapnya. Karena aku tau, tak ada kata “ya” saat aku menyatakan perasaanku nanti. dia tak mau pacaran, dan dia benci seorang kekasih, ntah apa alasannya.


Jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Embun pun terlelap kelelahan di sampingku.


“embun,,,, embun,,,,,, bangun embun,, sekarang sudah pagi. Katanya mau melihat embun, ayo bangun” pujukku,, tapi tak kudengarkan sahutan darinya.


“ayolah embun, bangun. Jangan terlelap terlalu lama…” aku mulai resah, apa yg terjadi. Kurasakan dingin tubuhnya, tapi aku menepis fikiran negatif ku. Mungkin saja dingin ini berasal dari embun pagi.


“embun sayang,, ayo bangun. Jangan buat aku khawatir”. Lagi lagi tak kudengarkan sahutannya. Tubuhnya pucat, dingin, kaku,,. Aku mencoba membawanya kerumah sakit dengan usahaku sendiri. Dan,,, “ kami sudah melakukan semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkehendak lain. Embun sudah menghadap sang pencipta” itulah kata-kata dokter yg memeriksa embun yg membuat aku bagai tersambar petir. Aku lemah, jatuh, dan merasa bersalah. Kalau tak karena aku yang mengajaknya ke taman, mungkin tak kan seperti ini. Ya Tuhan, kenapa ini terjadi… aku tak sanggup.

***


Beberapa bulan kemudian….

Aku temui surat berwarna biru dan ada gambar embun di surat itu.


    Teruntuk reivan alghibran

    Embun…

    Titik titik air bening yg jatuh dari langit

    Dan membasahi kelopak bunga yg aku sukai.

    Aku ingin seperti embun, yg bisa hadir di hati orang

    Yg menyayanginya. Tapi aku tak menemui siapa orang itu???


    Rei … makasih ya, dalam waktu terakhirku, kamu bisa menjadi embun di hatiku. Dan tak kan pernah aku lupakan itu. Rei,, maaf kalau sebenarnya aku suka sama kamu. Aku sengaja tak mengungkapkannya, karena aku tau.. sahabat lebih berharga di banding kekasih.


    O ia rei,,, tolong rawat taman kita ya,, aku gak mau dia layu karena tak ada yg memperhatikannya lagi. Karena taman itu adalah tempat pertemuan kita pertama dan terakhir kalinya.

    sekali lagi,, makasih dah jadi embun selama aku hidup dan tolong,, jadiin aku embun di hatimu ….


    salam manis… embun azzula.



“Embun,,,kamu tau, pertama aku kenal kamu, kamu telah menjadi embun dihidupku, yang menyejukkan hatiku. Dan kamu adalah butiran bening yang selalu buat aku tersenyum, seperti embun yang selalu buatmu tersenyum.


Taman ini, bukan aku yg akan merawatnya, tapi kita. Dan taman ini tak akan pernah mati, karena kamu selalu ada di sini, di sini rumah mu.” Kalimat terakhirku ketika meletakkan setangkai bunga mawar yg aku ambil dari taman di atas pusaranya. Pusara yg terletak di tengah-tengah taman embun. Dan kunamai taman itu dengan nama EMBUN. embun.. yang tak kan pernah mati…


the end

Wednesday, September 26, 2012

selingkuh berahir petaka

Silakan saja orang-orang menertawakanku karena menganggap diriku kuno. Tidak modern dan percaya pada petuah-petuah lama karena takut kena tulah bila melanggarnya. Akibatnya, setiap tindakanku jujur kukatakan bahwa itu tak lepas dari nasehat-nasehat usang yang sebelumnya kudengar. Bahkan ketika aku menemukan dirinya sebagai seorang tempatku berbagi, entah itu sekerat kue bahagia nan manis melekat-lekat saat lidah jiwa mencecapnya, atau pun ketika kutumpahkan segala resah membuncah dalam hatiku setelah berbagai pengalaman pahit getir yang kurasakan. Aku masih percaya bahwa dirinya bukanlah keisengan yang hadir tiba-tiba dalam kehidupanku.
Aku meyakini bahwa tak ada hal sekecil apa pun yang terjadi secara kebetulan. Kehadirannya pun kuanggap sebagai fakta tak terbantahkan atas keberadaanku di dunia ini. Dirinya adalah seorang yang sengaja diciptakan Tuhan khusus untukku. Begitulah anggapanku. Karenanya, aku bersyukur atas kemurahan-Nya padaku telah menurunkan seseorang yang menjadi tempat segala cinta dan curahan kasih-sayangku. Dalam sikap pasrah menerima apa adanya sehubungan dengan kedirian sang Hawa terpilih yang diposisikan Tuhan untuk berada di sampingku, aku berserah diri pada takdir yang telah ditetapkan-Nya untukku. Bahkan ketika kutahu bahwa dia suka mengenakan sarung tangan sutra indah untuk menyembunyikan sepuluh jari tangannya yang berkuku baja hitam beracun, panjang melengkung runcing menawarkan penderitaan perih yang lamat sekali hilangnya. Aku patuh pada kepercayaan butaku yang dogmatis itu.
”Ini sudah ditakdirkan! Ini alur cerita yang tak mungkin dapat kurevisi semauku agar bisa sejalan dengan keinginanku sendiri. Inilah lakon yang mesti kuperankan dalam panggung sandiwara kehidupanku dimana naskahnya berkekuatan hukum kuat dari takdir diriku yang telah ditetapkan Tuhan.”
Demikian biasanya aku menghibur diri sendiri.
Namun tentu saja ketegaranku sampai pula pada batasnya. Lalu, kuberanikan untuk menceritakan peristiwa getir yang kualami pada Anda semua. Saat kutulis cerita ini, entah mengapa hujan tak henti-hentinya turun. Hujan dengan jutaan jarum dinginnya bertubi-tubi menerjang bumi. Tak ketinggalan pula kilat melesat-lesat, lalu untuk menenangkan diri kubayangkan aku berada di suatu masyarakat kuno dimana orang-orang percaya bahwa bila anak-anak listrik yang genit menari-nari itu, mengerjap berkali-kali, bertabrakan satu sama lain maka semua ini tak lain adalah keisengan para dewa yang bermain perang-perangan dengan pedang-pedang api biru menyala terang.
Sudah kubilang aku ini ’arkhaik’! Satu yang unik. Satu yang masih percaya dengan legenda. Maka, sewaktu aku menumpahkan isi hatiku dalam cerita ini dengan suasana alam mencekam di luar sana, aku percaya ini upaya terbaikku untuk meredam riuh gemuruh yang menggelegar di dalam dadaku. Sekadar mengekspresikan dan menegaskan betapa purbanya caraku menanggapi takdir kehilangan seorang yang pernah sangat kusayangi, tapi kini telah berpindah, berkalang di rumah barunya.
Lihatlah kini apa yang kuperbuat! Aku telah lesap terhisap. Diriku sudah masuk ke dalam kubangan sesal akan kehilangan dirinya. Aku meratap-ratap di kegelapan ruang duka nan tak tertanggungkan. Menyesali kelalaian dan kecerobohanku hingga membuatnya pergi untuk selamanya. Dalam pekatnya warna luka hatiku, aku berandai-andai bilamana saat itu aku tak mengutuk dan mengiringi kepergiannya menjemput maut dengan segala sumpah serapah. Aku berandai-andai kalau saja diriku mampu mencegah istriku untuk mengurungkan niat berkhianatnya menemui lelaki selingkuhan, tentu saat ini masih bisa aku berbagi sejumput kebahagiaan dengannya. Aku berandai-andai bila saja istriku tak tergoda rayuan si lelaki hidung belang selingkuhannya itu, tentu Wulan anak semata wayang kami tak kehilangan bundanya. Aku larut dalam kekusutan yang makin sulit kuurai ujung-pangkalnya untuk sekedar tahu mengapa semua ini terjadi. Akhirnya aku kelelahan. Lelah yang menguras seluruh tenaga hidupku. Kelelahan yang diakibatkan betapa berat beban derita yang mesti kutanggung. Aku kira ini wajar. Sebab, bukanlah hal yang layak kubesar-besarkan lagi. Wajar saja aku lelah dan begitu berduka. Siapa yang sanggup menyaksikan istri tercintanya gosong menghitam, akibat disambar petir saat sang istri yang malang itu tengah berasyik-masyuk dalam mobil lelaki selingkuhannya? Siapa yang sanggup melihat istrinya melengkung balu melepuh berasap-asap seperti ikan lele lupa diangkat di penggorengan? Siapa yang sanggup mendapati istri tercintanya mengangkang lengket berpelukan dengan bau angit hangus menebar bersama lelaki selingkuhan yang masih tampak bersemangat menindihnya dari atas? Beritahukan padaku segera!
Ketika kutuliskan cerita ini, aku mengunci diri dari dalam ruangan kerjaku. Di ruang tamu, beberapa pelayat masih ramai mengobrol. Di beranda rumah juga demikian adanya. Sesekali kudengar derai tawa mereka. Kuanggap itu semua sebagai cara mereka memberikan reaksi manusiawinya atas persitiwa tragis yang dialami istriku bersama selingkuhannya. Bahkan sempat terdengar di telingaku yang terlampau tajam bahwa seorang dari mereka melempar guyonan:
”Makanya jangan selingkuh! Nanti gosong disambar petir!” lalu disusul gelak tawa dari orang-orang yang hadir mendengar lelucon garing tersebut.
Aku menganggap hal ini wajar sebagai reaksi spontan yang tak mau kehilangan kesempatan memberikan tanggapan untuk sebuah peristiwa yang dramatis. Biasa saja bagiku mendengar cemoohan itu. Bisa jadi mereka memandang perselingkuhan maut istriku sebagai keisengan yang berhadiah ribuan voltase listrik yang layak diterimanya. Tapi, aku masih manusia biasa. Tak mungkin bisa menampik kesedihan atas kehilangan pasangan hidupku dengan cara yang sangat fantastis sedemikian rupa. Aku masih berperasaan mendalam terhadap mendiang istriku. Sekali pun ia sangat lihai menipuku dan sekaligus kusesali mengapa diriku, suaminya yang percaya pada tulah, tega ditipunya.
”Ah, sayangku, bodohnya dirimu yang tak mendengarkan petuahku!”
Aku memang berkata kasar padanya beberapa jam menjelang istriku direnggut maut. Saat itu, aku muntab karena telah lama mencium gelagatnya yang tak beres. Ia sering meninggalkan rumah dan tega mengabaikan buah cinta kami, Wulan yang masih berusia dua tahun diserahkan pada Bi Imah untuk mengurusnya. Ini mengakibatkanku kehilangan akal sehat dan mengutuknya dengan sumpah serapah. Istriku memang melampaui batas waktu itu.
”Pergilah kau bangsat! Aku tahu kau mau menemui pacar baru selingkuhanmu itu! Semoga kalian hangus disambar petir saat kalian asyik berzina! Mampuslah! Mudah-mudahan tubuh kalian berdua gosong hitam lengket!”
”Dasar kau anjing keparat!” balas istriku sengit, ”Iya, kenapa?! Aku mau menemuinya! Aku mau mengangkang lebar-lebar di depannya nanti!”
Ia kemudian menyambar tas kecilnya. Berlari keluar tanpa bisa kuhadang lagi. Tiba di depan pintu pagar rumah kami, ia menghambur dan disambut lelaki selingkuhannya yang telah sedari tadi tanpa sepengetahuanku menunggu, menyarungkan jas hujan dan memeluk tubuhnya. Istriku mesra dituntunnya masuk ke dalam mobil. Mereka lalu melaju dalam hujan lebat di senja kelam basah. Aku yang ditinggalkannya terpuruk, tersuruk-suruk dalam hatiku yang remuk.
Kurang lebih empat jam setelah pertengakaran hebat kami dengan saling kutuk-mengutuk itu, tiba-tiba telepon di meja ruang tengah berdering.
Setelah kuselimuti Wulan anakku yang malam ini agak demam sehingga kubawa ke kamar tidur agar mudah menjaganya, aku bergegas menuju ruangan tengah untuk mengangkat telepon. Sekali pun aku agak menggerutu dalam hati. Siapa pula yang menelepon saat orang tengah beristirahat begini?
”Halo, benar ini kediaman tuan Thor?”
”Ya, benar…”
”Kami dari pihak berwajib yang tengah menyelidiki kasus kecelakaan maut akibat sambaran petir di parkiran Penginapan Nirvana, pak..”
”Oh, lantas ada apa menelepon saya, pak?”
”Begini, pak.. Kami telah mengidentifikasi berdasarkan dokumen penting korban yang selamat tak terbakar di lokasi…”
”Langsung saja! Saya tak punya banyak waktu. Anak saya lagi sakit saat ini.” Aku memotong ucapan dari seberang telepon yang terdengar berbelat-belit itu.
”Baiklah, pak… Seorang korban gosong akibat disambar petir wanita bernama Gloria. Apa benar korban adalah istri bapak?”
Aku langsung lemas mendengarnya. Tak kusangka petir menggelegar yang membuatku dan Wulan tadi kecut, meminta korban yang tak lain istriku. Susah-payah kukumpulkan tenaga untuk menjawab pertanyaan dari seberang telepon.
”Be..nn..nar.. dia istri… say..a.. pak..” suaraku keluar tersendat-sendat.
”Baiklah, pak… Silakan bapak ke rumah sakit sekarang juga. Langsung menuju kamar jenazah. Di sana sudah menunggu petugas otopsi rumah sakit dan beberapa anggota kami yang tengah melanjutkan proses identifikasi korban.”
”Baiklah… Saya segera ke sana…” kututup telepon dengan menghela napasku yang sesak.
Aku ke belakang ke kamar Bi Imah untuk memintanya menjaga Wulan yang sedang demam di kamar tidurku. Setelah itu bersiap-siap ke rumah sakit.
Beberapa saat kemudian, aku telah tiba di rumah sakit dan memarkir mobilku. Turun dari mobil, aku langsung disambut seorang petugas kepolisian yang rupanya sedari tadi telah menungguku di depan pintu masuk utama. Atasannya telah memberi perintah menunggu kedatanganku beberapa saat setelah aku ditelepon.
”Pak Thor, benar?”
”Iya, benar saya, pak..”
”Atasan saya memerintahkan untuk segera mengantar bapak setibanya di sini. Mari ikuti saya ke kamar jenazah. Aku berjalan beriringan mengikuti petugas kepolisian itu.
Langkahnya cepat dan terburu-buru. Seketika ia memperlambat langkahnya. Mungkin untuk mengimbangi jalanku yang lamban. Atau, mungkin ada hal lain yang ingin disampaikannya?
”Ah, syukurlah bapak segera datang. Dari tadi kami dan petugas otopsi rumah sakit kesulitan mengidentifikasi jenazah korban. Kami hanya memperoleh petunjuk dari selembar surat dan foto korban bersama keluarganya. Untungnya benda-benda petunjuk itu berada dalam tas kecil walaupun separuh melepuh tasnya tapi selamat tak terbakar, terlindungi sekeping benda logam di TKP.”
”Memangnya seberapa parah keadaan mayatnya sampai menyulitkan para petugas identifikasi?” aku agak dongkol.
”Silakan bapak lihat saja sendiri di dalam…” petugas kepolisian itu membukakan pintu masuk kamar jenazah untukkku setelah kami sampai tak berapa lama.
Bau angit daging gosong begitu menyengat. Aroma yang membuat perutku terasa mual seketika menebar di seantero ruang berdinding putih. Saat seorang petugas otopsi rumah sakit melintas di depanku, ia berhenti mendadak.
Bapak dari pihak keluarga korban, bukan?” sapanya tiba-tiba. Lalu ia menuju meja beroda tepat di sebelah dimana gundukan besar berada di atas meja beton berposelin teronggok diselimuti kain yang terembesi lemak cairan tubuh melepuh. Aku yakin itu pasti sumber bau menyengat di dalam kamar jenazah ini. Petugas otopsi itu lalu memungut sebuah benda berkilat di atas nampan stenlis, dan berjalan menghampiriku.
Ia kemudian mengeluarkannya dan memberikan padaku.
”Ini cincin yang melekat di jari manis tangan korban hangus yang berada di bawah, pak..” sodornya padaku.
Aku mengamatinya. Seketika jantungku berdebar kencang tak karuan lagi. Aku sangat kenal cincin yang sedang diperlihatkan petugas otopsi itu. Melihat ekspresi wajahku yang berubah, petugas kepolisian pun mendekatiku dan memperlihat selembar foto yang di dalamnya ada diriku, anakku di tengah dipangku Gloria, istriku.
”Ini semua memang milik istri saya, pak..” ujarku lesu.
”Kami mohon bapak kuat untuk langsung melihat jenazah istri bapak sekarang..”
Ketika kain yang menyelimuti gundukan besar berisi mayat gosong itu dibuka seluruhnya, aku terhenyak menyaksikan pemandangan yang sangat mengerikan di hadapanku. Di atas meja otopsi kini teronggok daging tubuh gosong melepuh yang masih berasap, hitam lengket, berbau angit dan berdempetan. Tubuh mayat hangus yang berada di bawah dalam posisi mengangkang lebar dan sedang ditindih dengan tubuh balu hitam hangus melepuh satunya lagi yang berada di atas.
Tak sanggup kuberdiri tegak. Keseimbanganku hilang. Aku jatuh lunglai yang langsung ditangkap petugas kepolisian yang mengantarku tadi. Beberapa saat setelah aku sadar diri, petugas yang baik hatinya itu mengantarku pulang ke rumah dan dia yang menyetir mobilku. Menuntunku sampai duduk terhenyak di kursi ruang tamu rumahku. Lalu, ia berpamitan dan hanya kujawab dengan anggukan pelan.
Demikianlah cerita yang berisi kegetiran yang tengah kualami. Kegetiran dari takdir yang mungkin lebih kejam daripada kematian itu sendiri. Kegetiran yang kurasakan akibat buruk tulah, sumpah mengutuki istriku sendiri. Saat kutulis cerita pedih ini, cincin yang diberikan petugas otopsi rumah sakit itu tergeletak di samping segelas air putih di atas meja kerjaku. Cincin yang mengingatkanku saat-saat indah ketika kuucapkan janji setiaku pada Gloria. Cincin yang juga kini berfungsi sebagai alarm pengingat betapa aku telah dibakar hawa nafsuku sendiri, murka hingga mengutuki istri tercintaku mati dalam keadaan sesat mengenaskan sedemikian rupa. Cincin yang membawaku pada lautan berbadai penyesalan yang masih bergejolak.

cinta pertama

Pujaan Hati Masa Kecilku

Aku bertemu Jake ketika berumur sebelas tahun. Bagiku ia bukan hanya "teman kakak laki-lakiku". Ia berusia tiga belas tahun - seorang pemuda yang lebih tua. Jake dan kakakku suka duduk di kamar kakakku, dengan pintu tertutup, dan menggoyang-goyangkan kepala mengikuti irama musik Guns' n Roses. Aku akan berusaha keras mencar-cari alasan untuk mengetuk pintu kamar kakakku, hanya supaya mengintip atau mendapat seulas senyum Jake. Aku menemukan sesuatu yang menarik pada diri jenius komputer aneh itu. Tapi aku hanya "adik Phil", sehingga hubungan kami hanya sebatas ini: Ia teman kakakku dan aku adik yang menjengkelkan, dua status yang tampaknya tidak cocok. Lalu Jake pergi ke sekolah swasta, dan aku kehilangan kehadirannya di rumah, meski itu hanya di balik pintu kamar kakakku yang terkunci. Beberapa bulan setelah pergi, Jake menulis surat kepada Phil, dan di akhir surat, dengan tulisan yang nyaris tidak terbaca, ia menulis "sampaikan salamku untuk adikmu. Apa dia masih lucu?" Kalimat itu menghidupi selama berbulan-bulan, cukup untuk terus menerus menimbulkan getaran di perutku.
Pada musim panas 1993, Jake pulang. Suatu malam, telepon berdering. Ketika aku mengangkatnya, suara di ujung sana menjawab, "Hai Lensa, Phil ada?" Aku menggali ingatanku, mencoba mengingat suara yang sudah kukenal di ujung sana. Setelah beberapa saat, aku sadar itu suara Jake. JAKE!
"Sebenarnya dia tidak ada. Kau ada di mana?" Suaraku gemetar. Aku tak percaya ketika dia menjawab, "Cranbrook," ia ada di rumah.
Persahabatan kami dimulai ketika ia bicara lagi dan berkata, "Yah, kalau Phil tidak ada, kurasa kaulah yang harus bicara denganku." Malam itu, kami bertemu dan duduk di taman berjam-jam.
Aku membawa seorang teman, dengan tujuan memasangkannya dengan teman yang menemani Jake. Aku memperhatikan saat Jake berbicara dan ketawa dengan temanku, Mel. Aku sadar aku takkan menjadi orang yang akan memasangkan siapapun. Tampak jelas Jake tertarik kepada Mel.
Ketika Jake dan Mel pacaran, hatiku hancur. Keegoisanku membuatku senang ketika bulan itu mereka berpisah, dan Jake meneleponku untuk mengadu. Akhirnya kami berbicara lagi dan kemarahanku karena ia mengencani Mel sirna dengan agak cepat. Sulit untuk bersikap terus marah kepadanya.
Meski tak lama kemudian ia kembali ke sekolahnya, suratnya sekarang dialamatkan kepadaku, dengan catatan tambahan yang berbunyi, "sampaikan salamku untuk Phil." Persahabatan kami semakin lama semakin erat.
Ia meninggalkan sekolahnya dua tahun kemudian, hanya untuk pindah semakin jauh, tapi kami malah semakin dekat. Tak lama kemudian aku menyadari bahwa aku benar-benar jatuh cinta padanya. Setiap kali ia datang berkunjung, semua terasa seperti sebuah petualangan baru. Kami merasa bebas untuk bertingkah seperti anak kecil, tapi sekaligus, pembicaraan kami tidak ada habisnya. Kami tertawa dan berbagi rahasia, dan aku selalu sedih jika ia harus pulang.
Setiap kali ia berkunjung aku berkata kepada diri sendiri, Inila saatnya. Aku akan mengatakan perasaanku kepadanya. Aku berjanji pada diri sendiri bahwa aku akan mengatakannya sebelum ia pergi, tapi aku tak pernah berani mengakui perasaanku kepadanya.
Jake kembali pulang ke rumah beberapa hari lalu. Aku berjanji kepada diriku sendiri bahwa tak akan ada lagi lain kali, bahwa jika tidak sekarang, aku takkan pernah mengatakannya, dan bahwa aku tak sanggup menahannya lagi. Walau pernah menyinggung-nyinggung perasaan kami satu sama lain, kami tida pernah membicarakannya. Aku mengumpulkan keberanian untuk mengatakan perasaanku kepadanya, bahwa aku mencintainya dan telah beberapa lama merasakannya. Kata-kata itu mengalir begitu saja dari mulutku. Ia memotong ucapanku, mencondongkan tubuh ke depan dan menciumku. Aku mengira aku merasakan kebahagiaan yang sempurna, tapi anehnya, aku tidak merasakannya. Ini Jake, aku mengingatkan diri sendiri. Ingat ? Kau mencintainya! Tapi aku tetap tidak merasakan apa-apa. Ketika ia menatapku, aku bisa melihat perasaan yang sama. Selama ini au yakin mencium Jake merupakan potongan teka-teki terakhir untuk melengkapi khayalanku yang sempurna. Namun entah bagaimana, potongan teka-teki ternyata tidak cocok.
Jake hari ini pergi lagi, dan kali ini, kepergiannya tak terasa seperti tragedi. Kami teman baik tidak lebih, dan akan selalu begitu.
Jadi mungkin ini bukan akhir dari sebuah dongeng. Mungkin pujaan hati masa kecilku takkan menjadi pangeran dongengku, tapi kami masih bisa hidup bahagia selamanya.

cinta sejati

Ku  masih dan selalu saja meratapi diriku. Entah sampai kapan ku akan terus seperti ini. Pekerjaanku sepulang sekolah adalah melamun dan selalu melamun. Sambil mendengarkan lagu cinta sejatiku Peter Pan. ku sudah hafal lagu itu, sebab hanya satu lagu itulah yang menjadi temanku sehari-hari. Lagu itu menyimpan kenangan atau seakan lagu itu adalah harapan.

Sambil terus mendengarkan Peterpan yang diputar beberapa kali, ku memandangi foto lama di HP-ku. Gambar itu adalah seorang Gadis remaja kecil dan Lelaki remaja kecil berseragam biru-putih. Dua anak itu bergaya. Berpegangan tangan dengan wajahnya seperti menarik senyuman. Ku tertawa sendiri teringat dengan semua kisah masa laluku.

“ D’, a cakep nggak gini?” ku meminta pendapat Anis. Saat itu, Aku baru saja mencukur rambut.

“ Idih, Cakep ko.. daripada botak kaya kemaren!” ujar Anis kecil sambil tertawa.

“ Hmm.. masa sih d, kamu juga cakep d”

“ He” narsis banget sih kamu a”

“ kenapa ? ko Narsis!”

“ Ia, ini foto-foto aja”

“ Buat kenang-kenangan d’, kita kan mau lulus! Gimana-gimana juga, jelek-jelek juga, ni sekolah kan yang mempertemukan kita d”.

.

Ku tertawa lagi, tapi ia sadar bahwa semuanya adalah hanya kenangan masa lalu ketika ku bersekolah Menengah Pertama.

“ Dimana Hati kamu sekarang, d? Apa ku gak bias nemuinnya lagi?”

Ku lelah. ku mematikan Audio Playern. Dan Peterpen pun berhenti menyanyi.



***



Nun jauh disana, entah Anis sedang melakukan apa. Apakah sama juga sedang teringat pada masa laluanya bersamaku.

“ A… kamu dimana? D’ takut a’ kenapa-napa…!”  a’ kemana teriak anis penuh kekhawatiran ketika ku Pergi Kabur Meninggalkan Rumah .

Dan ku memang sedang terombang-ambing diantara hidup dan mati ditengah masalah Hidupku itu.  Aku pergi pergi meninggalkan Pulau Jawa. Pesan terakhirku saat itu ku bilang “ d’, kamu baik-baik ya dsini, insya allah nanti kita ktemu lagi, jaga diri baik-baik d’ ”.

Anis tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa  menangis.

“ Aaaaaaaaaaaaaaaaa…!” teriaknya saat disekolah dan mencertakan kepergiaanku kepada teman-teman yang lain.

Segera Anis bersama teman-teman yang lain mencoba mencariku. HP ku lobet, ia tak bias Kontek denganku, dan akupun tak bicara jika ku pergi kemana? Tapi ku juga merasa gelisah, hingga akhirnya ku Sempat SMS dia menggunakan HP orang lain. Hingga aku berulang-ulang di- Telponnya, Hingga akhirnya ku Terayu olehnya tuk Pulang. 3 hari Kepergiaanku ternyata membuatku mengetahui berapa besar Sayang Anis untukku.

Hari-hari kita memang selalu berdua tak pernah terpisahkan. Berangkat dan pulang sekolah, selalu berdua. Mendapat Peran Teater pun menjadi pasangan Raja dan Ratu. Cinta sudah terpatri dihatiku dengannya meski tak terucap kata cinta itu. Cinta itu tumbuh dengan sendirinya. Padahal, orang tua ia tak setuju dengan ke akraban aku dengannya.  Tapi, biar orang tua tak setuju. Kita berikrar tak akan pernah terpisah untuk selama-lamanya.



“ KR-EHB IS TRUE LOVE, AND ALWAYS TOGETHER FOREVER!” begitu janji ku pada Anis.

Dan kenyataan kita terpisah. Ternyata Aku tak seperti dulu dan Anispun bukan anis yang ku kenal dulu. Tapi sungguh ku masih sangat mencintainya.



***



Tiga tahun tentu bukanlah waktu yang sebentar, itu adalah waktu yang sangat lama untuk membangun sebuah Bangunan Cinta nan amat Kokoh . Selama sekian tahun itu, aku dan Anis bersama. Namun itu tak meluluhkan kerasnya Hati Anis sekarang, ia seakan tak acuh lagi denganku, dan sampai aku memutuskan tuk memcoba Membencinya.

“ D’… kenapa kamu sekarang? Tahukah kamu, aku sangat mencintaimu?” ku coba menitipkan kata pada angin yang bersiyur. Mudah-mudahan saja Anis mendengarnya disana.

Tiga tahun runtuh seperti ini. Tak ka nada lagi lika-liku Cinta antara ku dengannya,, Jika ada sebuah Penghargaan munkin aku dengannya adalah Pasangan yang sangat banyak mendapatkan penghargaan, Pasangan Putus-Nyambung, Pasangan ter-unik, Ter-Aneh, Ter-, Ter- dech. Tapi kini hanya Harapan, seketika Hati Anis Membeku sekeras batu nana mat besar yang tak bisah terluluhkan lagi. Hancurlah harapanku untuk bisa slalu dengan cintanya itu.

“ Bagaimana jika ternyata Anis mengkhianatiku, lalu ia kini bersanding dengan orang lain” .  Hati ku  mulai berprasangka yang tidak-tidak, karena ku paling tak terima jika ia dekat dengan orang lain”.

“ Ah, tapi buat apa, aku tak terima! Itu Haknya, dia mau punya Pacar baru tah, balikan ma pacar  lamanya tah,, aku tak punya hak ngurusin dia lagi” Gertak hatiku, memarahi diriku yang Egois ini.

Ah, hatiku berperang, bergejolak pertarungan kata-kata antara Ego dan Hatinya.

“ Sekali lagi, aku yakinkan padamu, Mi. Anis bukan Siapa-siapa lagi untukmu. kamu tak punya hak lagi ngurusin dia..” bisik hati Ku.

Disini kumelihat atap dinding yang bolong. ku seperti melihat bayangan masa lalunya ketikaku Kabur dan Anis menangis khawatir. Huh!



***



Di kamar ini ku Sejenak Terdiam, mencoba Menerima semuanya yang telah terjadi. Yang Sudah, YA SUDAHLAH!! Mungkin ini adalah akhir dari Perjalananku dengannya,, dan langkah awal tuk melangkah kembali mencari Cinta sejatiku. Kucoba hapus Kesedihannku, Menutup Cerita bersamanya dan membuka Cerita baru. Aku sejenak Tenang, hatiku dan Egoku mulai Selaras, beberapa menit itu telah membuatku melupakan Kepedihanku. Saat ku berpaling ke dinding kumelihat Boneka itu, boneka pemberiaan dari Anis. Huh, kembali Hatiku di Ingatkan kembali oleh Cerita lamaku bersama Anis. “Ya allah kapan ini semua akan berakhir, aku sudah tak tahan atas semua ini. Ya aku mencintainya, aku menyayanginya.. tapi ini semua tak bisa dipaksakan lagi” gemuruh Jiwaku bertanya kepada sang Ilahi.

Lagi-lagi aku harus berperang dengan Hatiku, entah sampai kapan ini semuanya berakhir… tapi ku tak mau begini, mungkin butuh waktu tuk hapus semuanya.

Pesanku untuknya ” Cinta ini memang tak Bisa karena Terpaksa, harus keTulusanlah yang bisa membuat Cinta Abadi, tapi bukan inilah Jalan terbaik yang kau Pilih. Tapi ya sudahlah ini semua telah Menjadi Keputusanmu” dan Permintaanku kepadanya ” Be the first woman I knew, my very dear. and looks beautiful and Sholeha  always wherever you stepped your step.