Silakan saja orang-orang menertawakanku karena menganggap diriku kuno.
Tidak modern dan percaya pada petuah-petuah lama karena takut kena tulah
bila melanggarnya. Akibatnya, setiap tindakanku jujur kukatakan bahwa
itu tak lepas dari nasehat-nasehat usang yang sebelumnya kudengar.
Bahkan ketika aku menemukan dirinya sebagai seorang tempatku berbagi,
entah itu sekerat kue bahagia nan manis melekat-lekat saat lidah jiwa
mencecapnya, atau pun ketika kutumpahkan segala resah membuncah dalam
hatiku setelah berbagai pengalaman pahit getir yang kurasakan. Aku masih
percaya bahwa dirinya bukanlah keisengan yang hadir tiba-tiba dalam
kehidupanku.
Aku meyakini bahwa tak ada hal sekecil apa pun yang terjadi secara
kebetulan. Kehadirannya pun kuanggap sebagai fakta tak terbantahkan atas
keberadaanku di dunia ini. Dirinya adalah seorang yang sengaja
diciptakan Tuhan khusus untukku. Begitulah anggapanku. Karenanya, aku
bersyukur atas kemurahan-Nya padaku telah menurunkan seseorang yang
menjadi tempat segala cinta dan curahan kasih-sayangku. Dalam sikap
pasrah menerima apa adanya sehubungan dengan kedirian sang Hawa terpilih
yang diposisikan Tuhan untuk berada di sampingku, aku berserah diri
pada takdir yang telah ditetapkan-Nya untukku. Bahkan ketika kutahu
bahwa dia suka mengenakan sarung tangan sutra indah untuk menyembunyikan
sepuluh jari tangannya yang berkuku baja hitam beracun, panjang
melengkung runcing menawarkan penderitaan perih yang lamat sekali
hilangnya. Aku patuh pada kepercayaan butaku yang dogmatis itu.
”Ini sudah ditakdirkan! Ini alur cerita yang tak mungkin dapat kurevisi
semauku agar bisa sejalan dengan keinginanku sendiri. Inilah lakon yang
mesti kuperankan dalam panggung sandiwara kehidupanku dimana naskahnya
berkekuatan hukum kuat dari takdir diriku yang telah ditetapkan Tuhan.”
Demikian biasanya aku menghibur diri sendiri.
Namun tentu saja ketegaranku sampai pula pada batasnya. Lalu,
kuberanikan untuk menceritakan peristiwa getir yang kualami pada Anda
semua. Saat kutulis cerita ini, entah mengapa hujan tak henti-hentinya
turun. Hujan dengan jutaan jarum dinginnya bertubi-tubi menerjang bumi.
Tak ketinggalan pula kilat melesat-lesat, lalu untuk menenangkan diri
kubayangkan aku berada di suatu masyarakat kuno dimana orang-orang
percaya bahwa bila anak-anak listrik yang genit menari-nari itu,
mengerjap berkali-kali, bertabrakan satu sama lain maka semua ini tak
lain adalah keisengan para dewa yang bermain perang-perangan dengan
pedang-pedang api biru menyala terang.
Sudah kubilang aku ini ’arkhaik’! Satu yang unik. Satu yang masih
percaya dengan legenda. Maka, sewaktu aku menumpahkan isi hatiku dalam
cerita ini dengan suasana alam mencekam di luar sana, aku percaya ini
upaya terbaikku untuk meredam riuh gemuruh yang menggelegar di dalam
dadaku. Sekadar mengekspresikan dan menegaskan betapa purbanya caraku
menanggapi takdir kehilangan seorang yang pernah sangat kusayangi, tapi
kini telah berpindah, berkalang di rumah barunya.
Lihatlah kini apa yang kuperbuat! Aku telah lesap terhisap. Diriku sudah
masuk ke dalam kubangan sesal akan kehilangan dirinya. Aku
meratap-ratap di kegelapan ruang duka nan tak tertanggungkan. Menyesali
kelalaian dan kecerobohanku hingga membuatnya pergi untuk selamanya.
Dalam pekatnya warna luka hatiku, aku berandai-andai bilamana saat itu
aku tak mengutuk dan mengiringi kepergiannya menjemput maut dengan
segala sumpah serapah. Aku berandai-andai kalau saja diriku mampu
mencegah istriku untuk mengurungkan niat berkhianatnya menemui lelaki
selingkuhan, tentu saat ini masih bisa aku berbagi sejumput kebahagiaan
dengannya. Aku berandai-andai bila saja istriku tak tergoda rayuan si
lelaki hidung belang selingkuhannya itu, tentu Wulan anak semata wayang
kami tak kehilangan bundanya. Aku larut dalam kekusutan yang makin sulit
kuurai ujung-pangkalnya untuk sekedar tahu mengapa semua ini terjadi.
Akhirnya aku kelelahan. Lelah yang menguras seluruh tenaga hidupku.
Kelelahan yang diakibatkan betapa berat beban derita yang mesti
kutanggung. Aku kira ini wajar. Sebab, bukanlah hal yang layak
kubesar-besarkan lagi. Wajar saja aku lelah dan begitu berduka. Siapa
yang sanggup menyaksikan istri tercintanya gosong menghitam, akibat
disambar petir saat sang istri yang malang itu tengah berasyik-masyuk
dalam mobil lelaki selingkuhannya? Siapa yang sanggup melihat istrinya
melengkung balu melepuh berasap-asap seperti ikan lele lupa diangkat di
penggorengan? Siapa yang sanggup mendapati istri tercintanya mengangkang
lengket berpelukan dengan bau angit hangus menebar bersama lelaki
selingkuhan yang masih tampak bersemangat menindihnya dari atas?
Beritahukan padaku segera!
Ketika kutuliskan cerita ini, aku mengunci diri dari dalam ruangan
kerjaku. Di ruang tamu, beberapa pelayat masih ramai mengobrol. Di
beranda rumah juga demikian adanya. Sesekali kudengar derai tawa mereka.
Kuanggap itu semua sebagai cara mereka memberikan reaksi manusiawinya
atas persitiwa tragis yang dialami istriku bersama selingkuhannya.
Bahkan sempat terdengar di telingaku yang terlampau tajam bahwa seorang
dari mereka melempar guyonan:
”Makanya jangan selingkuh! Nanti gosong disambar petir!” lalu disusul
gelak tawa dari orang-orang yang hadir mendengar lelucon garing
tersebut.
Aku menganggap hal ini wajar sebagai reaksi spontan yang tak mau
kehilangan kesempatan memberikan tanggapan untuk sebuah peristiwa yang
dramatis. Biasa saja bagiku mendengar cemoohan itu. Bisa jadi mereka
memandang perselingkuhan maut istriku sebagai keisengan yang berhadiah
ribuan voltase listrik yang layak diterimanya. Tapi, aku masih manusia
biasa. Tak mungkin bisa menampik kesedihan atas kehilangan pasangan
hidupku dengan cara yang sangat fantastis sedemikian rupa. Aku masih
berperasaan mendalam terhadap mendiang istriku. Sekali pun ia sangat
lihai menipuku dan sekaligus kusesali mengapa diriku, suaminya yang
percaya pada tulah, tega ditipunya.
”Ah, sayangku, bodohnya dirimu yang tak mendengarkan petuahku!”
Aku memang berkata kasar padanya beberapa jam menjelang istriku
direnggut maut. Saat itu, aku muntab karena telah lama mencium
gelagatnya yang tak beres. Ia sering meninggalkan rumah dan tega
mengabaikan buah cinta kami, Wulan yang masih berusia dua tahun
diserahkan pada Bi Imah untuk mengurusnya. Ini mengakibatkanku
kehilangan akal sehat dan mengutuknya dengan sumpah serapah. Istriku
memang melampaui batas waktu itu.
”Pergilah kau bangsat! Aku tahu kau mau menemui pacar baru selingkuhanmu
itu! Semoga kalian hangus disambar petir saat kalian asyik berzina!
Mampuslah! Mudah-mudahan tubuh kalian berdua gosong hitam lengket!”
”Dasar kau anjing keparat!” balas istriku sengit, ”Iya, kenapa?! Aku mau
menemuinya! Aku mau mengangkang lebar-lebar di depannya nanti!”
Ia kemudian menyambar tas kecilnya. Berlari keluar tanpa bisa kuhadang
lagi. Tiba di depan pintu pagar rumah kami, ia menghambur dan disambut
lelaki selingkuhannya yang telah sedari tadi tanpa sepengetahuanku
menunggu, menyarungkan jas hujan dan memeluk tubuhnya. Istriku mesra
dituntunnya masuk ke dalam mobil. Mereka lalu melaju dalam hujan lebat
di senja kelam basah. Aku yang ditinggalkannya terpuruk, tersuruk-suruk
dalam hatiku yang remuk.
Kurang lebih empat jam setelah pertengakaran hebat kami dengan saling
kutuk-mengutuk itu, tiba-tiba telepon di meja ruang tengah berdering.
Setelah kuselimuti Wulan anakku yang malam ini agak demam sehingga
kubawa ke kamar tidur agar mudah menjaganya, aku bergegas menuju ruangan
tengah untuk mengangkat telepon. Sekali pun aku agak menggerutu dalam
hati. Siapa pula yang menelepon saat orang tengah beristirahat begini?
”Halo, benar ini kediaman tuan Thor?”
”Ya, benar…”
”Kami dari pihak berwajib yang tengah menyelidiki kasus kecelakaan maut
akibat sambaran petir di parkiran Penginapan Nirvana, pak..”
”Oh, lantas ada apa menelepon saya, pak?”
”Begini, pak.. Kami telah mengidentifikasi berdasarkan dokumen penting korban yang selamat tak terbakar di lokasi…”
”Langsung saja! Saya tak punya banyak waktu. Anak saya lagi sakit saat
ini.” Aku memotong ucapan dari seberang telepon yang terdengar
berbelat-belit itu.
”Baiklah, pak… Seorang korban gosong akibat disambar petir wanita bernama Gloria. Apa benar korban adalah istri bapak?”
Aku langsung lemas mendengarnya. Tak kusangka petir menggelegar yang
membuatku dan Wulan tadi kecut, meminta korban yang tak lain istriku.
Susah-payah kukumpulkan tenaga untuk menjawab pertanyaan dari seberang
telepon.
”Be..nn..nar.. dia istri… say..a.. pak..” suaraku keluar tersendat-sendat.
”Baiklah, pak… Silakan bapak ke rumah sakit sekarang juga. Langsung
menuju kamar jenazah. Di sana sudah menunggu petugas otopsi rumah sakit
dan beberapa anggota kami yang tengah melanjutkan proses identifikasi
korban.”
”Baiklah… Saya segera ke sana…” kututup telepon dengan menghela napasku yang sesak.
Aku ke belakang ke kamar Bi Imah untuk memintanya menjaga Wulan yang
sedang demam di kamar tidurku. Setelah itu bersiap-siap ke rumah sakit.
Beberapa saat kemudian, aku telah tiba di rumah sakit dan memarkir
mobilku. Turun dari mobil, aku langsung disambut seorang petugas
kepolisian yang rupanya sedari tadi telah menungguku di depan pintu
masuk utama. Atasannya telah memberi perintah menunggu kedatanganku
beberapa saat setelah aku ditelepon.
”Pak Thor, benar?”
”Iya, benar saya, pak..”
”Atasan saya memerintahkan untuk segera mengantar bapak setibanya di
sini. Mari ikuti saya ke kamar jenazah. Aku berjalan beriringan
mengikuti petugas kepolisian itu.
Langkahnya cepat dan terburu-buru. Seketika ia memperlambat langkahnya.
Mungkin untuk mengimbangi jalanku yang lamban. Atau, mungkin ada hal
lain yang ingin disampaikannya?
”Ah, syukurlah bapak segera datang. Dari tadi kami dan petugas otopsi
rumah sakit kesulitan mengidentifikasi jenazah korban. Kami hanya
memperoleh petunjuk dari selembar surat dan foto korban bersama
keluarganya. Untungnya benda-benda petunjuk itu berada dalam tas kecil
walaupun separuh melepuh tasnya tapi selamat tak terbakar, terlindungi
sekeping benda logam di TKP.”
”Memangnya seberapa parah keadaan mayatnya sampai menyulitkan para petugas identifikasi?” aku agak dongkol.
”Silakan bapak lihat saja sendiri di dalam…” petugas kepolisian itu
membukakan pintu masuk kamar jenazah untukkku setelah kami sampai tak
berapa lama.
Bau angit daging gosong begitu menyengat. Aroma yang membuat perutku
terasa mual seketika menebar di seantero ruang berdinding putih. Saat
seorang petugas otopsi rumah sakit melintas di depanku, ia berhenti
mendadak.
Bapak dari pihak keluarga korban, bukan?” sapanya tiba-tiba. Lalu ia
menuju meja beroda tepat di sebelah dimana gundukan besar berada di atas
meja beton berposelin teronggok diselimuti kain yang terembesi lemak
cairan tubuh melepuh. Aku yakin itu pasti sumber bau menyengat di dalam
kamar jenazah ini. Petugas otopsi itu lalu memungut sebuah benda
berkilat di atas nampan stenlis, dan berjalan menghampiriku.
Ia kemudian mengeluarkannya dan memberikan padaku.
”Ini cincin yang melekat di jari manis tangan korban hangus yang berada di bawah, pak..” sodornya padaku.
Aku mengamatinya. Seketika jantungku berdebar kencang tak karuan lagi.
Aku sangat kenal cincin yang sedang diperlihatkan petugas otopsi itu.
Melihat ekspresi wajahku yang berubah, petugas kepolisian pun
mendekatiku dan memperlihat selembar foto yang di dalamnya ada diriku,
anakku di tengah dipangku Gloria, istriku.
”Ini semua memang milik istri saya, pak..” ujarku lesu.
”Kami mohon bapak kuat untuk langsung melihat jenazah istri bapak sekarang..”
Ketika kain yang menyelimuti gundukan besar berisi mayat gosong itu
dibuka seluruhnya, aku terhenyak menyaksikan pemandangan yang sangat
mengerikan di hadapanku. Di atas meja otopsi kini teronggok daging tubuh
gosong melepuh yang masih berasap, hitam lengket, berbau angit dan
berdempetan. Tubuh mayat hangus yang berada di bawah dalam posisi
mengangkang lebar dan sedang ditindih dengan tubuh balu hitam hangus
melepuh satunya lagi yang berada di atas.
Tak sanggup kuberdiri tegak. Keseimbanganku hilang. Aku jatuh lunglai
yang langsung ditangkap petugas kepolisian yang mengantarku tadi.
Beberapa saat setelah aku sadar diri, petugas yang baik hatinya itu
mengantarku pulang ke rumah dan dia yang menyetir mobilku. Menuntunku
sampai duduk terhenyak di kursi ruang tamu rumahku. Lalu, ia berpamitan
dan hanya kujawab dengan anggukan pelan.
Demikianlah cerita yang berisi kegetiran yang tengah kualami. Kegetiran
dari takdir yang mungkin lebih kejam daripada kematian itu sendiri.
Kegetiran yang kurasakan akibat buruk tulah, sumpah mengutuki istriku
sendiri. Saat kutulis cerita pedih ini, cincin yang diberikan petugas
otopsi rumah sakit itu tergeletak di samping segelas air putih di atas
meja kerjaku. Cincin yang mengingatkanku saat-saat indah ketika
kuucapkan janji setiaku pada Gloria. Cincin yang juga kini berfungsi
sebagai alarm pengingat betapa aku telah dibakar hawa nafsuku sendiri,
murka hingga mengutuki istri tercintaku mati dalam keadaan sesat
mengenaskan sedemikian rupa. Cincin yang membawaku pada lautan berbadai
penyesalan yang masih bergejolak.
No comments:
Post a Comment